kisah inspiratif – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Wed, 14 May 2025 08:22:46 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png kisah inspiratif – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Menginspirasi lewat Konten dan Pendidikan, Kisah Dr. Decenni Amelia dari Youtuber hingga Dosen PGSD Ubhara Jaya https://ubharajaya.ac.id/menginspirasi-lewat-konten-dan-pendidikan-kisah-dr-decenni-amelia-dari-youtuber-hingga-dosen-pgsd-ubhara-jaya/ Wed, 14 May 2025 08:22:18 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=15423 Bekasi – Kisah inspiratif kali ini datang dari Dr. Decenni Amelia, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Sekolah Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) yang saat ini memiliki jumlah pengikut 454 ribu di YouTube, 89.5 ribu followers di Instagram dan 69.5 ribu followers di TikTok. Ia menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih mimpi menjadi seorang pendidik. 

Berawal dari kebutuhan finansial saat melanjutkan pendidikan S3, Dr. Decenni justru menemukan jalan baru yang memperkaya kiprahnya yakni menjadi konten kreator. Mengawali karier sebagai konten kreator pada Agustus 2019, Dr. Decenni tak menyangka bahwa kegiatannya membuat konten YouTube justru membuka banyak jalan. Kala itu, ia sedang mencari kosan di Bandung karena diterima sebagai mahasiswa S3 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, dukungan finansial dari orang tua telah berhenti.

“Saya itu baru mulai ngonten bulan Agustus 2019, dulu keterima jadi mahasiswa S3 di UPI nyari kosan kebetulan saat itu sudah tidak ada dana dari orang tua, karena orang tua bilang, kalau sudah tamat S2 sudah tidak ada kucuran dana,” katanya.

Menyiasati kondisi tersebut, ia sempat berjualan kerajinan tangan dan mendekorasi kamar kosannya secara mandiri, lalu mulai mengunggah konten makeover dengan barang-barang murah dari salah satu platform jual beli online. Ternyata, dari situ muncul ide untuk memanfaatkan YouTube sebagai sumber penghasilan.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Dr. Dhian Tyas Untari, Sosok Dosen Ubhara Jaya dengan Indeks Scopus Mengesankan

“Jadi mungkin karena kepepet butuh dana buat kuliah ya sudah inspirasinya dari situ mulai ngonten pertama itu Agustus 2019 upload pertama kali hasilnya itu September setelah satu bulan,” ujarnya.

Saat itu, ia butuh waktu hingga Februari untuk menarik penghasilan pertamanya, karena proses monetisasi YouTube saat itu masih rumit. Padahal saat itu, salah satu videonya berhasil ditonton jutaan kali.

“Kalau dulu di YouTube itu ada syarat dapat 1.000 Subscriber sama 4.000 jam tonton biar dapat monetisasi baru bisa ngurus google AdSense itu saya ngurusnya itu satu bulan. Ketika sudah di ACC baru mulai dapat AdSense,” katanya

Langkah Jadi Dosen dan Cita-Cita Sejak Awal

Perjalanan Dr. Decenni tidak berhenti di dunia konten. Pada Desember 2020, ia mendapatkan tawaran mengajar sebagai dosen PGSD di Ubhara Jaya, setelah pindah ke Cileungsi bersama suami.

“Saat itu tinggal disertasi Desember tahun 2020. Saya itu nikah di bulan Agustus 2020. Habis itu dari Bandung pindah ke Cileungsi karena suami kerja di Cileungsi.. Kebetulan saat itu dapat info Bhayangkara mencari calon dosen yang on going S3 habis itu saya coba apply. Alhamdulillah atas izin Allah setelah dipanggil untuk tes dan wawancara, saya diterima untuk menjadi dosen di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ini.,” katanya.

Dr. Decenni Amelia, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Sekolah Guru Sekolah Dasar (PGSD) saat mengajar dalam kelas (Foto: Dok Pribadi Dr. Decenni)

Menjadi seorang pendidik, rupanya telah menjadi cita-cita Dr Decenni sejak lama, apalagi beliau memang berasal dari keluarga pendidik. Ibunya merupakan guru SD yang sudah mengabdi selama 33 tahun.

“Kebetulan ibu saya guru SD. Beliaulah yang menjadi alasan utama saya mengambil jurusan PGSD. Namun saat itu, ayah saya sangat ingin anak-anaknya kuliah hingga jenjang S2, karena ayah saya dulu ingin melanjutkan studi S2 namun terkendala biaya. Sayangnya, ayah saya meninggal pada saat saya masih kuliah S1 di semester 6. Sehingga ibu saya menjadi orang satu-satunya yang membiayai kuliah saya dan kakak saya yang pada saat itu sedang kuliah S2.,” katanya.

Ia pun membulatkan tekad untuk terus melanjutkan pendidikan. Lulus S1 dari Universitas Negeri Padang tahun 2015, ia langsung melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2016 dan lulus tahun 2018. Tak hanya sampai disitu, ia juga akhirnya memutuskan untuk langsung melanjutkan studi ke jenjang S3 di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2019 saat ia masih berusia 25 tahun karena merasa otak masih fresh, masih muda, belum bekerja dan belum berkeluarga. Ditambah lagi, ia mendapatkan dukungan dari sang kakak yang juga merupakan seorang dosen.

“Kakak saya menyarankan saat itu agar saya langsung saja lanjut studi ke jenjang S3, karena kalau nanti sudah bekerja dan berkeluarga, pikiran pasti akan terbagi, kakak saya pun hingga saat ini belum memutuskan untuk lanjut studi karena terkendala itu semua,” katanya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Annisa, Alumni PKO Ubhara Jaya yang Sukses Berkarier di Dunia Senam

Kini sebagai konten kreator, Dr Decenni juga kerap membagikan momen saat dirinya mengajar mahasiswa di prodi PGSD Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Bahkan beberapa kontennya kemarin sempat viral di TikTok dengan 4.8 juta views dan di Instagram dengan 3.4 juta views. Kolom komentarnya dipenuhi rasa kagum netizen terhadap kegiatan perkuliahan di PGSD Ubhara Jaya yang sangat menginspirasi banyak kalangan.

“Saya percaya bahwa the power of content itu nyata, kemarin juga banyak komentar yang bertanya ini jurusan PGSD di kampus mana, saya dengan perasaan senang menjawab bahwa ini jurusan PGSD di Ubhara Jaya. Bagi saya ini juga merupakan salah satu bentuk promosi agar orang di luar sana mengetahui bahwa di Ubhara Jaya juga ada jurusan PGSD,” ucapnya.

Kisah Dr. Decenni ini menjadi cerminan dari perjuangan yang tulus, kreativitas tanpa batas, dan keberanian mengambil keputusan besar di saat sulit. Dari mahasiswa tanpa homebase hingga kini menjadi dosen dan kreator yang menginspirasi, ia tidak pernah lupa pada masa-masa sulit dan orang-orang yang membantunya.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Kisah Inspiratif Dr. Dhian Tyas Untari, Sosok Dosen Ubhara Jaya dengan Indeks Scopus Mengesankan https://ubharajaya.ac.id/kisah-inspiratif-dr-dhian-tyas-untari-sosok-dosen-ubhara-jaya-dengan-indeks-scopus-mengesankan/ Wed, 23 Apr 2025 08:41:49 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=15290 Bekasi – Kisah inspiratif kali ini datang dari Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Dr. Dhian Tyas Untari, S.E., M.M., MBA. Dia menjadi salah satu dosen dengan indeks Scopus 9 di Ubhara Jaya.

Jalan hidup tak selalu lurus. Kadang berliku, penuh tantangan, bahkan terasa tak sejalan dengan mimpi masa kecil. Namun bagi Dhian semua perjuangan itu bermuara pada satu hal yakni tekad untuk terus belajar dan memberi kontribusi nyata melalui dunia pendidikan dan riset.

Cinta Riset Sejak Dini

“Saya suka dari kecil tentang riset-riset. Dulu kalau ada pelajar biologi kaya suka mau meneliti apa ya? bahkan dulu saya punya cita-cita jadi periset ya,” tutur Dhian mengenang masa kecilnya. 

Baca Juga: Kisah Inspiratif Brigjen Pol Asep Guntur, Alumni Pertama Fakultas Psikologi yang Kini Jabat Direktur Penyidik KPK

Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan riset bukanlah hal baru. Namun, cita-cita tersebut sempat tertahan oleh kondisi ekonomi keluarga. Lahir dari keluarga sederhana, Dhian menyadari sejak dini bahwa untuk bisa menempuh pendidikan tinggi, ia harus bekerja keras sendiri. 

“Saya bukan dari keluarga yang berada saat itu pindah ke Jakarta. Saat itu ibu tidak bekerja hanya ayah yang bekerja. Lulus SMA saja sudah bagus banget,” kenangnya.

Tak menyerah pada keadaan, Dhian menggali satu-satunya potensi yang ia miliki saat itu yakni menyanyi. Sejak SMP, ia sudah aktif mengikuti lomba-lomba seperti Suara Pelajar, Bintang Radio, hingga Asia Bagus. Suaranya yang merdu menjadi bekal untuk meniti karier sebagai penyanyi kafe sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1996.

“Dulu saya itu penyanyi kafe, karena kalau dulu saya tidak punya talenta menyanyi saya kayaknya enggak bisa melanjutkan kuliah,” katanya.

Dhian pun menyadari apa yang dilakukannya itu merupakan jembatan menuju jenjang akademik. Ketika lulus S2, Dhian masih bekerja di bank. Namun keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral begitu kuat. Kendalanya lagi-lagi adalah biaya. Ia pun mulai mencari beasiswa dan menemukan tiga pilihan saat itu ada Habibie Center, Bappenas, dan BPPS dari Dikti. 

“Bappenas harus PNS, BPPS harus dosen dan Habibie Center harus eksak, sedangkan saya sosial enggak mungkin. Masuk PNS susah, yang paling gampang itu jadi dosen,” jelasnya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif 2 Mahasiswa Ubhara Jaya Gabung Klub Sepak Bola Patriot Bekasi FC

Menjadi dosen pun akhirnya menjadi jalan terbaik. Tidak hanya karena tuntutan beasiswa, tetapi karena ia mulai menyadari bahwa dunia pendidikan adalah passion sejatinya. Pengalaman menempuh pendidikan doktoral memberinya banyak pelajaran, terutama dalam hal menulis. Saat itu, tuntutan penulisan sangat tinggi di kampusnya. 

“Kuliah S3 di kampus saya saat itu kemampuan menulis itu harus banget, salah titik koma, salah kata sambung itu dikata-katain habis,” tuturnya. 

Namun justru dari situ, ia belajar memperbaiki diri. Dari jurnal ke jurnal, ia terus menulis dan menerima berbagai feedback perbaikan.

“Dari sana saya baru mencoba untuk menulis jurnal dan kebetulan dapat feedback harus diperbaiki lagi terus,” tambahnya.

Scopus dan Branding Dosen

Setelah menyelesaikan S3, Dhian mulai memikirkan loncatan karier akademiknya. Ia tahu bahwa untuk bisa melompat ke jenjang Lektor Kepala, publikasi ilmiah harus kuat, khususnya di Scopus. Maka ia mulai serius menulis dan membangun rekam jejak akademik. Bahkan Dhian juga meraih peringkat 70 di Sinta dari total 307.503 penulis.

“Ternyata record Scopus yang bagus itu juga bagus untuk branding kita untuk tanda kutip jualan lagi di luar, kita bisa jadi konsultan, dosen di luar pun hibah penelitian juga karena record scopus kita juga dilihat,” paparnya. 

Baginya, reputasi akademik bukan hanya soal angka, tapi juga modal untuk membuka peluang lebih luas dalam dunia profesional. Di tengah semua kesibukannya, Dhian tak pernah lelah mengajak sesama dosen untuk terus meningkatkan kapasitas diri. 

“Improve dan branding. Brandinginya dosen itu adalah di Sinta, di Paten di buku. Ini real banget ya,” ujarnya tegas.

Menurutnya, dunia akademik harus dihadapi dengan komitmen untuk terus berkembang. 

“Dosen itu tugasnya 3 doang kok: meneliti, pengabdian, pengajaran,” ucapnya.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Kisah Inspiratif Annisa, Alumni PKO Ubhara Jaya yang Sukses Berkarier di Dunia Senam https://ubharajaya.ac.id/kisah-inspiratif-annisa-alumni-pko-ubhara-jaya-yang-sukses-berkarier-di-dunia-senam/ Thu, 20 Mar 2025 02:00:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=12839 Bekasi – Kisah inspiratif kali ini datang dari Annisa Silhah Yusmianda. Alumni Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) telah membuktikan bahwa passion dalam olahraga dapat berbuah manis. 

Dengan dukungan dari orang tua dan antusiasme masyarakat terhadap senam, Annisa mewujudkan mimpinya membuka sanggar senam yang kini menjadi tempat berlatih bagi banyak orang. Mahasiswa PKO angkatan 2020 ini semasa kuliah juga berprestasi. Dia pernah meraih juara 1 di Lomba Senam Bugar Jabar Juara dalam HAORNAS 2023 Se-Jawa Barat. 

Rupanya, kecintaannya di dunia senam mulai terlihat sejak usianya 15 tahun. Saat itu, Annisa sering mengikuti kegiatan senam di area Car Free Day (CFD)

“Perjalanan saya dimulai pada saat umur 15 tahun saya berolahraga di area CFD dan saya sedikit tertarik ketika melihat kegiatan senam di sana. Mulailah saya ikut menjadi peserta senam tersebut,” katanya.

Baca Juga: Alumni Ubhara Jaya Berbagi Tips Penerapan Personal Branding Dalam Pencarian Kerja

Seiring berjalannya waktu, Annisa mendapatkan kesempatan untuk melatih kemampuannya bersama instruktur lain. Dia bahkan sempat menjadi asisten instruktur, atau yang biasa disebut sebagai ‘shadow‘. Dari situ, Annisa mulai serius dalam menekuni dunia senam dengan mengambil beberapa lisensi sebagai syarat untuk menjadi instruktur profesional.

Setelah mengumpulkan cukup pengalaman dan lisensi, Annisa memberanikan diri untuk membuka sanggar senam sendiri. Namun, tak puas sampai di situ, Annisa terus mengikuti pelatihan-pelatihan senam lainnya.

Dia pun menuturkan jika materi perkuliahan yang diperoleh di Ubhara Jaya sangat mendukung kariernya. Ke depan, Annisa berencana untuk terus mengembangkan sanggar senamnya. 

“Jika ada rezeki dan kesempatannya, suatu hari nanti pasti akan terus saya kembangkan,” katanya.

Baca Juga: Cerita Wisudawan Terbaik Putri Ayuni Agustina, Lulus Ubhara Jaya Tanpa Skripsi

Dia pun berpesan kepada mahasiswa Ubhara Jaya yang hendak berkarier di bidang olahraga. Menurutnya, penting untuk memahami minat dan kekuatan pribadi, serta melengkapi diri dengan pendidikan dan pelatihan yang relevan.

“Selain pendidikan formal di PKO, Anda mungkin perlu mengikuti pelatihan tambahan atau mendapatkan sertifikasi yang relevan. Ini akan memberikan anda keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha dengan sukses,” ujar Annisa.

Selain itu, Annisa menekankan pentingnya membangun jaringan dengan profesional di industri olahraga dan memanfaatkan teknologi serta media sosial untuk memasarkan usaha. 

“Media sosial adalah alat yang sangat efektif untuk menjangkau audiens dan membangun brand Anda,” katanya

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Kisah Inspiratif Brigjen Pol Asep Guntur, Alumni Pertama Fakultas Psikologi yang Kini Jabat Direktur Penyidik KPK https://ubharajaya.ac.id/kisah-inspiratif-brigjen-pol-asep-guntur-alumni-pertama-fakultas-psikologi-yang-kini-jabat-direktur-penyidik-kpk/ Fri, 24 Jan 2025 07:56:46 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=14160 Bekasi – Nama Direktur Penyidikan (Dirdik) KPK Brigjen Pol Asep Guntur Rahayu, S.IK, S.Psi, M.H. sudah tak asing lagi. Alumni pertama Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) ini pun membagikan kisahnya kenapa memilih Fakultas Psikologi.

Pengalaman itu dia bagikan saat mengisi Orasi Ilmiah di acara Dies Natalis ke-18 Fakultas Psikologi di auditorium Kampus II, Bekasi, Kamis (23/1/2024). Dalam kesempatan tersebut, Brigjen Pol Asep mengatakan, sebagian anggota Polisi saat itu banyak rekan-rekannya memilih mengambil Fakultas Hukum, namun dia memilih untuk kuliah di Fakultas Psikologi.

“Saya melihat di angkatan saya sendiri sekitar 312 orang kebanyakan mengambil sarjana hukum. Memang mungkin ada korelasinya karena bisa bertugas di reserse. Tapi setelah saya amati di Kepolisian itu ada Biro Psikologi dan itu jarang padahal di situ juga peluang,” katanya.

Baca Juga: Dies Natalis Ke-18 Fakultas Psikologi Ubhara Jaya Usung Tema Well-Being dan Kapasitas Unggul

Ilmu yang diperolehnya selama di Ubhara Jaya pun akhirnya benar-benar diterapkannya saat menjalankan tugas kepolisian. Dia pun berpesan jika mahasiswa Psikologi Ubhara Jaya tidak salah pilih tempat dan jurusan.

“Adik-adik saat ini berada di tempat dan waktu yang sangat tepat. Kenapa? saya berfikir bahwa setiap orang, pekerja dan siapa pun itu masuk ke fakultas psikologi. Kenapa? karena kita makhluk sosial,” katanya.

Baca Juga: Harmoni Antarbudaya: Promoting Global Peace Melalui Angklung Bersama Fakultas Psikologi Ubhara Jaya

Brigjen Pol Asep Guntur Rahayu, S.IK, S.Psi, M.H dengan Rektor Ubhara Jaya Irjen. Pol. (Purn) Prof. Dr. Drs. Bambang Karsono, S.H., M.M., Ph.D., D.Crim., (Honoris Causa) (Foto: Dok Humas Ubhara Jaya)

Selama Orasi Ilmiah, Brigjen Pol Asep pun banyak memberikan saran kepada mahasiswa agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja nantinya. Dia menuturkan jika terkadang dunia pekerjaan akan sangat berbeda dengan perkuliahan.

“Kenali lingkungan, rekan-rekan lihat lingkungan kerjanya seperti apa. Yang paling penting adalah, adik-adik tetap semangat karena yang ada dihadapi (dunia kerja) itu jauh berbeda. Atau bisa saja tidak diperoleh saat adik-adik kuliah di sini,” katanya.

Tim Media dan Publikasi 
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Kisah Inspiratif 2 Mahasiswa Ubhara Jaya Gabung Klub Sepak Bola Patriot Bekasi FC https://ubharajaya.ac.id/kisah-inspiratif-2-mahasiswa-ubhara-jaya-gabung-klub-sepak-bola-patriot-bekasi-fc/ Mon, 30 Dec 2024 07:44:07 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=13960 Bekasi – Kisah inspiratif kali ini datang dari 2 mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Mahasiswa bernama Ridho Abdurrohman dan Muhammad Zidan Nurashori ini bisa bergabung dengan klub sepak bola Patriot Bekasi FC untuk mengembangkan diri.

Muhammad Zidan mengatakan, saat itu dia harus berkompetisi dengan 60 lebih orang. Sebagai kiper, Zidan mengaku seleksi saat itu cukup berat hingga hanya menyisakan 27 orang. Proses seleksi ini pun berjalan selama satu bulan. Mahasiswa semester 1 ini dengan timnya pun berhasil membawa klubnya meraih juara di Liga 4 Seri 2 Jawa Barat (Jabar).

“Seleksi itu ada sekitar 1 bulanan. Tadinya ada sekitar 60 sampai 40 orang terus semakin diseleksi lagi sampai jadi 27 orang,” ucap Zidan.

“Sulit seleksinya. Apalagi posisi saya kiper itu ada 6 sampai 7 yang ikut seleksi tapi yang dipilih itu cuma 3,”katanya lagi.

Terjun di dunia sepak bola rupanya sudah dilakukan Zidan dan Ridho sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kecintaan terhadap olahraga tersebut pun didukung orang tua. Keduanya bahkan sudah aktif ikut dalam sejumlah pertandingan kala itu.

“Orang tua itu tahu kalau passion saya memang di bidang olahraga. Makanya saya masuk kuliah pun yang ada kaitannya dengan olahraga,” katanya.

Uniknya, dua mahasiswa ini sebelumnya merupakan teman lama yang pernah bertanding mewakili Bekasi di ajang U-15. Ridho dan Zidan ini pun baru menyadari keduanya satu masuk satu klub Patriot Bekasi FC usai seleksi akhir.

“Kami dulu pernah gabung di satu klub di Bekasi juga. Waktu itu masuk U-15. Waktu itu lama gak kontak karena Covid-19 juga baru kontak pas masuk ke klub terus ternyata kuliah di Bhayangkara juga,” ucapnya.

Dukungan Dari Kampus

Sebagian mahasiswa baru Ridho dan Zidan bersyukur, kampus sangat pendukung kegiatan mereka. Dosen pun tidak mempersulit mereka saat akan melakukan pertandingan di luar.

“Dosen itu sangat dukung. Kalau kami ada pertandingan ya izin dikasih tugas untuk dispensasi,” ucap Ridho.

Kuliah di Ubhara Jaya rupanya menjadi pilihan mereka secara matang. Selain karena ada program studi pendidikan kepelatihan olahraga, mereka juga banyak mendapatkan rekomendasi dari para pelatih dan seniornya.

“Pelatih memang rekomendasikan di sini. Senior juga ada yang sarankan di sini,” kata Zidan.

Sebagai atlet, Zidan dan Ridho pun berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengembangkan diri di bidang non akademik jangan ragu untuk mencoba. Mereka menilai jika setiap mahasiswa punya potensinya masing-masing.

Tim Media dan Publikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Kisah Inspiratif Belinda, Mahasiswa Ubhara Jaya Lawan Kanker Selama Kuliah hingga Raih Gelar Sarjana https://ubharajaya.ac.id/kisah-inspiratif-belinda-mahasiswa-ubhara-jaya-lawan-kanker-selama-kuliah-hingga-raih-gelar-sarjana/ Mon, 25 Mar 2024 07:29:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=10002 Bekasi – Kisah inspiratif kali ini datang dari mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), Belinda Annisa Buitasari. Gadis berusia 26 tahun ini berjuang melawan kanker yang dideritanya selama kuliah hingga bisa meraih gelar sarjana.

Belinda yang merupakan mahasiswa fakultas psikologi ini bisa mengerjakan skripsinya dalam kondisi sakit. Kanker ovarium yang dideritanya saat itu tak menyurutkan semangatnya agar bisa lulus kuliah.

Semangat anak dari pasangan Syafril Amir dan Sundari ini patut diacungi jempol. Meski kondisinya hanya bisa beraktivitas di atas kasur, Belinda yang lahir di Jakarta 25 Desember 1997 ini tak pernah melupakan mimpinya agar bisa wisuda dengan teman-temannya.

Mahasiswa angkatan tahun 2017 ini mengaku awalnya tak pernah tahu sakit yang dideritanya ternyata kanker. Di tahun 2022, Belinda mengeluhkan sakit perut. Namun, sakit itu tak kunjung sembuh hingga dia harus bolak-balik ke rumah sakit.

“Saya dirujuk ke RSUD Bekasi hingga dirawat 13 hari. Dari hasil rontgen, USG sampai CT Scan pun belum diketahui sakit apa. Akhirnya saya dirujuk kembali ke rumah sakit lagi saat mulai rawat jalan perut saya mulai keliatan membesar dan akhirnya di bulan Oktober 2023 kemarin saya baru dioperasi,” ucapannya.

Di tengah kondisinya, Belinda terus berkomunikasi dengan dosen pembimbing untuk menyelesaikan skripsinya, Belinda bahkan kerap dibantu sang ayah.

“Kesulitannya ada pasti apalagi selama mengerjakan skripsi saya mengerjakan sambil tiduran kalau nggak dibantu papa ketik,” ujarnya.

Perjuangan Belinda meraih mimpi lulus skripsi tak hanya didukung keluarga, teman hingga dosen pun ikut mensupport. Sidang skripsi pun digelar secara hybrid di mana, Belinda berada di rumah sedangkan dosen penguji di kampus.

Belinda pun mengaku motivasinya ingin lulus kuliah lantaran ingin membahagiakan orang tuanya. Dia ingin membuktikan jika kondisinya saat ini tidak menghalangi mimpinya.

“Motivasi saya semangat mengejar S1 saya mau cepet lulus bisa membuat senang orang tua dan harapannya bisa kerja membantu orang tua,” katanya.

Dosen pembimbing akademik Belinda, Budi Sarasati, S.KM., M.Si menuturkan selama proses skripsi, mahasiswanya itu yang selalu aktif bertanya. Belinda bahkan sempat ke kampus diantar ibunya ke kampus saat bimbingan akademik perdana.

“Waktu pertama kali dilimpahkan ke sana. Dia (Belinda) datang didorong pakai kursi roda. Saya sampai nangis, padahal saya baru bilang suruh kumpul tapi tekadnya Belinda ini benar-benar,” ucapnya.

Budi Sarasati menjelaskan, dari percakapannya dengan orang tua Belinda, anak didiknya itu memang punya tekad yang kuat agar bisa lulus S1. Bahkan saat menjalani perawatan di rumah sakit, Belinda kerap melamun lantaran memikirkan pendidikannya.

“Dalam mimpi-mimpinya Belinda itu dia harus bisa skripsi. Jadi memang dari diri Belindanya yang berharap agar dia bisa lulus,” ucapnya.

]]>