Pusat Kajian Bela Negara – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Tue, 21 Oct 2025 02:05:30 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png Pusat Kajian Bela Negara – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Pusat Kajian Bela Negara Ubhara Jaya Gelar Webinar Bela Negara 2.0 Bahas Keamanan Kontemporer dan Dunia Digital https://ubharajaya.ac.id/pusat-kajian-bela-negara-ubhara-jaya-gelar-webinar-bela-negara-2-0-bahas-keamanan-kontemporer-dan-dunia-digital/ Mon, 20 Oct 2025 10:05:37 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=16683 Bekasi – Pusat Kajian Bela Negara Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) menyelenggarakan kegiatan Webinar Brownbag in Web dengan mengusung tema “Bela Negara 2.0: dalam Keamanan Kontemporer dan Dunia Digital.” Kegiatan ini berlangsung pada Senin (20/10/2025) secara hybrid, yakni bertempat di ruang kelas Keamanan Nasional (Kamnas), Grha Summarecon, Kampus II Ubhara Jaya dan melalui Zoom Meeting.

Webinar ini menghadirkan empat narasumber dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, yaitu Visiting Fellow di RSIS, NTU, Singapore sekaligus Founder ruangobrol.id, Dr. Noor Huda Ismail, Managing Director di Wahid Foundation, Ibu Siti Kholisoh, serta dua mantan narapidana terorisme, yakni Bapak Sri Puji Mulyo Siswanto dan Ibu Marifah Hasanah yang kini aktif dalam gerakan perdamaian dan deradikalisasi. Turut hadir juga secara luring dalam webinar ini, Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) dan Pusat Kajian Bela Negara Ubhara Jaya, Prof. Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D., APU.

Baca Juga: Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Diskusi Brown Bag Series Bahas Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital

Acara diskusi dimulai dengan Bapak Sri Puji Mulyo Siswanto dan Ibu Marifah Hasanah yang berbagi pengalaman mereka sebagai mantan narapidana terorisme. Mereka bercerita bagaimana awal mula proses bergabungnya mereka dalam gerakan radikalisme dan terungkap bahwa itu semua juga berawal dari media sosial. Lalu, mereka juga bercerita bagaimana proses transformasi diri mereka, serta peran penting pendidikan dan dialog dalam upaya deradikalisasi. Pada sesi ini, dipandu oleh Bapak Purnomo Budi S., dosen Universitas Dian Nuswantoro sekaligus Pembina Yayasan Persadani Deradikalisasi Eks Napiter.

Berikutnya, sesi paparan oleh pakar dan diskusi yang dimoderatori oleh Sekretaris Pusat Kajian Bela Negara UBJ dan Dosen Prodi Ilmu Hukum Ubhara Jaya, Indah Pangestu Amaritasari, S.IP., M.A. Dr. Noor Huda Ismail dalam paparannya yang berjudul “Bela Negara 2.0: dalam Keamanan Kontemporer dan Dunia Digital,” menyoroti perubahan konsep bela negara di era modern yang kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital seperti chat room, live stream, dan dunia virtual.

Beliau menjelaskan bahwa ancaman ideologis kini banyak berkembang melalui media digital, termasuk game online dan komunitas Discord, di mana kelompok ekstrimis dan radikal memanfaatkan platform tersebut untuk menyebarkan narasi dan propaganda, seperti melalui Minecraft-style servers atau shooter game maps. Melalui konsep 3N, yakni Needs, Network, dan Narrative, Dr. Noor Huda menekankan pentingnya memahami kebutuhan, jejaring, dan narasi yang membentuk perilaku individu dalam konteks keamanan digital. Beliau mengajak generasi muda untuk memiliki kesadaran kritis dan literasi digital yang kuat sebagai bentuk bela negara versi baru di tengah kompleksitas dunia maya dan ancaman ideologi ekstrem yang terus bertransformasi.

Baca Juga: Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Brown Bag Discussion Series ke-2: Kesadaran Bela Negara di Era Digital

Selanjutnya, paparan dari Ibu Siti Kholisoh yang berjudul “Bela Negara di Era Digital: dari 4D ke 4K – dari Klik ke Aksi,” menyoroti transformasi makna bela negara di tengah perkembangan teknologi dan ruang digital. Beliau menegaskan bahwa bela negara masa kini bukan lagi soal senjata, melainkan menjaga ruang digital agar tetap beradab dan inklusif di tengah tantangan seperti polarisasi, hoaks, ujaran kebencian, dan disinformasi. Fenomena seperti echo chamber, filter bubble, dan digital tribalism menciptakan keterpisahan sosial dan melemahkan rasa kebangsaan. Beliau pun memperkenalkan konsep pergeseran dari 4D (Disiplin, Doktrinasi, Defensif, Dogmatis) menuju 4K (Kritis, Kreatif, Kolaboratif, Kontekstual) sebagai bentuk bela negara 2.0 yang menekankan kesadaran, inovasi, dan kerja sama lintas identitas. Lalu beliau menekankan pentingnya literasi digital, empati sosial, dan pendidikan dialogis yang mendorong kesadaran kritis agar generasi muda mampu mengelola informasi secara etis dan menjadi agen perdamaian di dunia maya.

Melalui kegiatan ini, Ubhara Jaya melalui Pusat Kajian Bela Negara UBJ menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan diskursus bela negara yang adaptif terhadap tantangan zaman, termasuk isu keamanan siber dan dinamika dunia digital yang semakin kompleks. Kegiatan ini juga mencerminkan dan menjadi implementasi dari visi Ubhara Jaya, yakni “Terwujudnya Universitas Bhayangkara Jakarta Raya sebagai Universitas unggulan di tingkat nasional dan internasional yang berwawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti guna menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berperilaku baik.”

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas Ubhara Jaya: +62 878-4162-4810

]]>
Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Brown Bag Discussion Series ke-2: Kesadaran Bela Negara di Era Digital https://ubharajaya.ac.id/pusat-kajian-bela-negara-ubj-gelar-brown-bag-discussion-series-ke-2-kesadaran-bela-negara-di-era-digital/ Mon, 29 Sep 2025 12:09:57 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=16554 Bekasi – Pusat Kajian Bela Negara (Puskaben) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) kembali menyelenggarakan kegiatan akademik bertajuk Brown Bag Discussion Series yang kedua. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis (25/09/2025) di Ruang Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas), Grha Summarecon, dan dihadiri oleh perwakilan dosen dari tujuh fakultas UBJ.

Diskusi kali ini mengangkat tema “Kesadaran Bela Negara di Era Digital: Konteks Bela Negara dalam Perspektif Hukum, Pendidikan, Komputer, Psikologi, Ekonomi, dan Bisnis Komunikasi serta Teknik.” Brown Bag Discussion merupakan forum akademik santai namun bermakna, yang meniru tradisi diskusi ilmiah di sejumlah perguruan tinggi di Eropa dan Amerika. Tema kesadaran bela negara dipilih sebagai kelanjutan dari diskusi sebelumnya, yang menyoroti tantangan era digital, khususnya terkait disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK). 

Baca Juga: Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Diskusi Brown Bag Series Bahas Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital

Pada forum sebelumnya di tanggal (25/08/2025), terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar adalah ketika oknum perwakilan pemerintah justru menyalahgunakan kewenangan digital yang dimilikinya. Situasi tersebut dinilai semakin relevan dengan kondisi terkini, mulai dari demonstrasi hingga aksi penjarahan yang terjadi pada akhir Agustus lalu. Sebagai sivitas akademika, UBJ merasa perlu mengangkat isu ini menjadi mimbar diskusi akademik. 

Menurut Puskaben, konsep bela negara seharusnya berfungsi untuk mencegah meluasnya penyalahgunaan data digital dan memastikan agar aparat atau perwakilan pemerintah tidak terlibat dalam tindakan sewenang-wenang, termasuk dalam praktik perjudian online (judol) maupun bentuk penyalahgunaan digital lainnya.

Diskusi kali ini menghadirkan dua narasumber utama. Pertama, I-KHub Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prakoso Permono, S.Sos., M.Si, yang membahas persoalan penyalahgunaan digital dalam perspektif sosial dan kebijakan. Kedua, Ketua Apsifor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Nathanael E.J. Sumampouw, M.Psi., M.Sc., Ph.D., Psikolog, yang hadir secara daring memaparkan kondisi psikologis masyarakat dalam menghadapi era digital serta bentuk kesadaran bela negara yang perlu dikembangkan.

Melalui dua perspektif tersebut, forum ini membedah dua dimensi penting, yaitu bentuk penyalahgunaan digital yang mengancam kesadaran berbangsa dan bernegara, serta strategi penguatan kesadaran bela negara dari sisi psikologi masyarakat. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari perwakilan tujuh fakultas UBJ, yang memberikan beragam sudut pandang sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Baca Juga: Jadi Kekhasan Ubhara Jaya, Sekolah Kamnas Kembali Dibuka

Kegiatan Brown Bag Discussion Series ini diharapkan mampu menjadi ruang konsolidasi gagasan akademik lintas disiplin di UBJ, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kesadaran bela negara yang relevan dengan tantangan era digital. Diskusi ini juga merupakan implementasi dari visi UBJ, yaitu berwawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti serta mendukung poin dua dari Asta Cita, Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas UBJ: +62 878-4162-4810

]]>
Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Diskusi Brown Bag Series Bahas Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital https://ubharajaya.ac.id/pusat-kajian-bela-negara-ubj-gelar-diskusi-brown-bag-series-bahas-resiliensi-dan-keamanan-manusia-di-era-digital/ Mon, 25 Aug 2025 08:44:10 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=16184 Bekasi – Pusat Kajian Bela Negara (Puska BN) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) menyelenggarakan diskusi akademik bertajuk Brown Bag Discussion Series dengan tema “Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital: Konteks Bela Negara dalam Perspektif Hukum, Pendidikan, Komputer, Psikologi, Ekonomi dan Bisnis, Komunikasi serta Teknik.” Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (21/08/2025) di Ruang Puskamnas, Grha Summarecon, Kampus II UBJ.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam format Forum Group Discussion (FGD), dengan melibatkan akademisi, praktisi, regulator, serta dosen lintas fakultas di UBJ. Subtema yang diangkat mencakup perlindungan data pribadi, literasi digital, ketahanan siber, dampak digitalisasi terhadap kesehatan mental, keamanan ekonomi digital, serta strategi komunikasi menghadapi disinformasi dan hoaks. Diskusi ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengkaji peran resiliensi digital dalam memperkuat konsep bela negara berbasis keamanan manusia. Melalui perspektif lintas ilmu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menggali berbagai strategi menghadapi tantangan di era digital sekaligus menyusun rekomendasi kebijakan interdisipliner.

Baca Juga: Prof. Hermawan Sulistyo Rayakan Ulang Tahun ke-68 Sekaligus Rilis Buku Terbaru

Turut hadir juga Mayor Jenderal TNI (Purn) M. Noor Aman (Gubernur Akademi Militer periode 2000 – 2001), Abdul Charis, M.Adm (Sekber RAN BE BNPT), dan Sulaiman Sujono (dari United Nations Office on Drugs and Crime) sebagai narasumber. 

Sekretaris Pusat Kajian Bela Negara UBJ, Indah Pangestu Amaritasari, S.IP., MA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Brown Bag Discussion merupakan ruang akademik yang diharapkan mampu memunculkan dialog interaktif lintas disiplin keilmuan.

“Harapan diskusi ini terjadi dialog antara pemapar dan peserta dalam memetakan serta menyikapi persoalan khususnya di era digital. Bela negara pada era yang berubah, dimana ada konteks keamanan manusia dan digitalisasi, dapat dimaknai secara proporsional. Hasil diskusi kita nantinya diharapkan bermanfaat sebagai bahan penyusunan buku monograf dan pengembangan kajian bela negara,” ujarnya.

Masuk ke inti kegiatan, Mayor Jenderal TNI (Purn) M. Noor Aman, menekankan bahwa ketahanan nasional merupakan instrumen kekuatan negara yang dirumuskan dalam konsep Asta Gatra, dengan bela negara sebagai implementasi praktisnya. Ia menyoroti pergeseran ancaman dari fisik ke non-fisik, termasuk hoaks, disinformasi, dan serangan siber, serta perlunya pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) untuk kepentingan pertahanan. Abdul Charis, M.Adm (Sekber RAN BE BNPT) menambahkan bahwa potensi radikalisme di kalangan pemuda meningkat akibat kebebasan akses informasi digital. Ia menilai bahwa kebijakan bela negara masih kaku, minim inovasi, dan terlalu birokratis sehingga tidak menjawab tantangan era digital. Potensi keterlibatan akademisi bisa mendalami konteks bela negara di era digital melalui berbagai penelitian, kajian, dan lain lain.

Baca Juga: Jadi Kekhasan Ubhara Jaya, Sekolah Kamnas Kembali Dibuka

Pada sesi diskusi dari perspektif akademik, Dr. Lusia Sulastri, S.H., M.H, (Dosen FH UBJ) menekankan pentingnya kesadaran publik terkait perlindungan data pribadi yang masih rendah meski regulasi sudah ada. Dr. Sani Aryanto, S.Pd., M.Pd, (Dekan FIP UBJ) menyoroti perlunya metode pembelajaran digital yang sesuai karakter generasi muda. Sementara itu, Dr. Achmad Fauzi, S.E., M.M, (Dosen FEB UBJ) menekankan peran pencegahan radikalisme berbasis komunitas dengan dukungan psikologis dan ekonomi. Rizma Afian Azhiim, S.IP., M.Si, (Dosen Psikologi UBJ) menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap rencana induk bela negara agar tidak hanya seremonial, tetapi menghasilkan output terukur. Prasojo, S.Sos., M.Si, (Dosen FIKOM UBJ) mengingatkan bahaya manipulasi persepsi yang dapat mengaburkan batas antara ancaman dan keamanan.

Melalui kegiatan ini, Puska BN UBJ berharap dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan interdisipliner, peta masalah dan peluang pembangunan resiliensi digital nasional, serta kolaborasi lintas fakultas dan sektor dalam riset terkait bela negara digital. Kegiatan Brown Bag Discussion Series ini menjadi wujud komitmen UBJ dalam memperkuat budaya akademik yang responsif terhadap tantangan zaman, sekaligus meneguhkan peran perguruan tinggi dalam menjaga ketahanan nasional di era digital.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas UBJ: +62 878-4162-4810

]]>