seminar internasional – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Mon, 26 Aug 2024 08:00:19 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png seminar internasional – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Kuatkan Visi Sebagai Perguruan Tinggi Berbasis Sekuriti, Ubhara Jaya Gelar Seminar Internasional Bahas Isu Keamanan Aktual https://ubharajaya.ac.id/kuatkan-visi-sebagai-perguruan-tinggi-berbasis-sekuriti-ubhara-jaya-gelar-seminar-internasional-bahas-isu-keamanan-aktual/ Tue, 09 Aug 2022 05:05:35 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=4188 Bekasi – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) menggelar seminar internasional bertema “Security Update, An International Bilingual Seminar.” Bertempat di Auditorium Ubhara Jaya, Graha Tanoto, Kampus II Bekasi, Senin Pagi (08/08/2022), seminar yang berlangsung secara hybrid (daring dan luring), menghadirkan para pakar studi keamanan internasional yakni, Prof. Dr. Bilveer Singh (National University of Singapore), Prof. Dr. Jasminder Singh (Nanyang Technological University), Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo, MA, Ph.D, APU, dan praktisi  teknologi dari Meguro Tokyo, Jepang, Anditto Heristyo, M.Si.

Dalam sambutannya mengawali acara, Rektor Ubhara Jaya, Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Dr. Drs. Bambang Karsono, SH, MM., mengatakan, “Visi kami adalah membangun kapasitas kelembagaan berbasis sekuriti. Visi yang menjadikan Ubhara Jaya sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang berfokus pada kajian tentang isu-isu keamanan,” jelas Rektor Ubhara Jaya.

Seminar Internasional ini, lanjutnya, menjadi bagian penting dari upaya Ubhara Jaya menjalankan fungsi akademik dengan menghasilkan kajian yang berfokus pada tema-tema keamanan, “Kami berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membuka jejaring internasional yang lebih luas dan peluang kerjasama dengan berbagai pihak, dengan fokus yang sama,” ucap Rektor lagi.

Seminar Internasional diisi pemaparan narasumber terkait isu-isu keamanan di Kawasan Asia Tenggara. Profesor Bilveer Singh yang merupakan Guru Besar pada Departemen of Political Science, National University of Singapore memaparkan sejumlah tantangan keamanan tingkat regional.

“Meski saat ini tidak ada perang yang terjadi di kawasan Asia Tenggara, namun masih terdapat sejumlah ancaman keamanan bagi negara-negara di sini. Ancaman di bidang keamanan itu terbagi atas dua, yakni ancaman terhadap negara yang berupa konflik dan persaingan pengaruh kekuasaan, contohnya terkait sengketa teritorial di Laut Cina Selatan, serta yang kedua konflik antar negara Asia Tenggara berupa sengketa wilayah (darat dan laut). Sementara ancaman keamanan terhadap rezim dan pemerintah contohnya terkait isu ekstrimisme agama dan terorisme,” urai Profesor Bilveer Singh dalam pemaparannya.

Lebih jauh, Bilveer Singh memaparkan, ancaman lain yang juga masih menjadi tantangan dalam bidang keamanan bagi negara-negara di Asia Tenggara termasuk permasalahan pangan, bencana alam, batas wilayah, kriminal, perdagangan manusia, pengungsian, korupsi dan juga kemiskinan.

Sementara, Profesor Jasminder Singh yang merupakan peneliti pada International Centre for Political Violence and Terrorism Research, Nanyang Technological University, Singapura, menyoroti isu terkait terorisme dan ekstrimisme agama di kawasan Asia Tenggara.

“Ancaman di bidang keamanan terbagi atas ekstrimisme agama, lalu adanya gerakan separatis di Myanmar, Indonesia, Thailand dan Filipina. Sikap lengah pada isu terorisme dan keamanan bisa berdampak besar pada keamanan. Kejahatan terorisme adalah pelajaran terbaik menyangkut soal keamanan, karena teroris adalah organisasi pembelajaran terbaik di dunia,” tutur Jasminder Singh.

Selanjutnya, pembicara yang merupakan praktisi bidang teknologi dari Meguro Tokyo, Jepang, Anditto Heristyo, M.Si memaparkan tantangan di bidang keamanan terkait dengan pemanfaatan internet pada masa pasca pandemi COVID-19 dalam makalah bertema “Security and Sovereignty in Post-Pandemic Era Internet.” Anditto mengatakan, “Internet dibangun atas dasar keterbukaan dan kolaborasi, maka seharusnya prinsip ini tetap menjadi pijakan bagi setiap orang dalam memanfaatkan teknologi ini,” jelas Anditto

Sementara itu, Profesor Riset Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Keamanan Nasional (Puskamnas), Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo, MA, Ph.D, APU., menyampaikan pemaparan terkait isu keamanan jelang perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 di Indonesia.

“Dalam konteks Pemilu mendatang, gagasan pemikirannya adalah bukan pada pengumpulan dukungan dalam bidang politik, namun bagaimana kita memahami dan memetakan potensi konflik di bidang keamanan yang menjadi bagian dari kegiatan penyadaran publik. Berbagai hasil kajian dari seminar ini akan berfungsi sebagai sumbangan pemikiran dan menjadi masukan strategis para pembuat kebijakan serta menjadi kontribusi Ubhara Jaya pada bangsa dan kemanusiaan,” papar Hermawan Sulistyo.

Tim Media dan Publikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Seminar Internasional, Ubhara Jaya Membahas Mengenai Tantangan Keamanan Siber Secara Global https://ubharajaya.ac.id/seminar-internasional-ubhara-jaya-membahas-mengenai-tantangan-keamanan-siber-secara-global/ Wed, 11 Dec 2019 11:39:35 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=2283 Bekasi –  Saat ini, Indonesia telah menjadi pusat dalam kerentanan dunia maya  yang secara global  dapat menjadi  sasaran terbesar serangan siber.  Sebagai salah satuNegara pengguna Smart Phones terbanyak di dunia, Indonesia perlu memikirkan Keamanan Data yang sudah menjadi sebuah aset penting tersimpan dalam jaringan. Hal ini dibahas tuntas dalam Seminar Internasional yang melibatkan 7 (tujuh) Negara yang diselenggarakan oleh Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) pada hari Senin(2/12/2019) di Auditorium Ubhara Jaya Kampus II Bekasi.

Acara dihadiri Para Pejabat Lembaga, Perwakilan Duta Besar Negara tetangga, Pejabat daerah dan Lingkungan Kampus Ubhara Jaya serta Dosen dan Mahasiswa. Pembahasan Seminar Internasional ini membahas Ancaman Keamanan Siber dari Pendekatan Multidisiplin.”Indonesia memilikiServer dengan tingkat keamanan  yang  masih terbatas, sehingga rentan terkena serangan.

SejumlahNegara di Asia pun menghadapi Ancaman yang sama.Sebagai kampus dengan corak unik keamanan (Security), Ubhara Jaya merasa perlu untuk berkontribusi dalam mengimplentasikan corak tersebut, baik dalam bentuk gagasan maupun gerakan baik dalam bidang pengajaran, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat, dimana seminar internasional sebagai salah satu perwujudannya.

“Indonesia perlumenyadari pentingnya dalam  melindungi kepentingan negara dan bisnis bahkan melindungi data pribadi pada era saat ini. Selain itu, strategi keamanan siber yang efektif  dengan memberikan  keseimbangan antara  hak individu dengan kepentingan keselamatan publik  maupun keamanan nasional.”Demikian pernyataan  Ubhara Jaya melalui Wakil Rektor IV, Dr.Diah Ayu Permatasari,,ST., S.IP., M.IR.

Demi menggali lebih lanjut terkait  tantangan ancaman siber dari berbagai lintas disiplin dan negara, dihadirkanlah narasumber-narasumber ahli yang merupakan Akademisidari lintas negara yakni Prof. Dr. Abu Bakar Munir dari University Malaya, Malaysia, Prof. Dr. Hermawan Sulistyo dari Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara, Tamra.H.Greig dari US Embassy Deputy Principal Officer, Dr. Jiow Hee Jhee dari Singapore Institute of Technology, Pastor Argualles Jr, Ph.D dari Universitas Perpetual Help System The Philippines, Dr. Aksel Tomte dari University of Oslo Norwegia dan Dr. Do Giang Nam dari Vietnam National University,  diskusi ini dibagi dalam 2 (Dua) Sesi pembahasan.

Selain itu hadir pula Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Komjen Dharma Pongrekun, beliau menyebut Tiga Ancaman dalam Situasi Keamanan sekarang ini yakni Hoaks, Ujaran kebencian serta paparan informasi Radikalisme.“Setelah adanya Migrasi menuju Tekhnologi melalui Smartphone, hal tersebut kian marak dan massif yang kadang sulit terkontrol,” kata Komjen Dharma. Untuk itu, diperlukan  Regulasi dan Proteksi atau perlindungan diri secara Personal termasuk Proteksi bagi suatu Negara

Dibandingkan dengan negara-negara Eropa, dimana kerangka peraturan keamanan sibernya sudah Relatif mapan,  di negara-negara Anggota ASEAN masih tertinggal. Kesadaran publik tentang Risiko dunia maya dan Insiden Keamanan Siber telah lebih rendah di Wilayah ini dibandingkan dengan Negara lain di mana Undang-undang pemberitahuan pelanggaran data telah berlaku selama beberapa waktu. Kurangnya kesadaran ini telah memengaruhi kecepatan dan pendekatan para pembuat undang-undang dan regulator di wilayah tersebut untuk bereaksi dan mengadopsi langkah-langkah Keamanan Siber dalam peraturan mereka. Seminar Internasional Ubhara Jaya ditutup  dengan memberikan Plakat kepada Pembicara dan Foto Bersama Rektor Dr. Drs. Bambang Karsono, SH., MM.

Tim Media Ubhara Jaya

]]>
Seminar Internasional, Ubhara Jaya Datangkan Kapolri Bahas Wajah Baru Terorisme di Indonesia https://ubharajaya.ac.id/1901-2/ Tue, 02 Oct 2018 12:03:46 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1901 Bekasi – Terorisme menjadi kata yang paling ditakuti semua orang di dunia terutama semenjak serangan WTC pada September 2001 silam. Tujuh belas tahun berlalu, teror masih saja menghantui kehidupan masyarakat, bahkan mengalami metamorfosis dalam bentuk wajah-wajah baru. Ledakan bom bunuh diri di 3 Gereja di Surabaya Mei silam adalah bukti bagaimana motif dan tindakan teorisme di tanah air berubah .

Sebagai bentuk dukungan terhadap sikap pemerintah dalam melawan aksi terorisme, Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) menghelat seminar internasional dengan bahasan wajah terorisme kontemporer serta strategi penanggulangannya, Kamis (27/9/2028) di Auditorium Graha Tanoto, Kampus II Bekasi. Kapolri Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A. Ph.D hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar yang juga menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pengamat, aktivis anti terorisme dan akademisi  lintas negara yaitu Singapura dan Filipina dan Australia,.

Mengawali seminar, Rektor Ubhara Jaya, Inspektur Jenderal Polisi (P) Dr.H.Bambang Karsono, SH., MM mengulas dua petunjuk arah dalam memahami terorisme internasional di era sekarang yakni formalisasi gerakan terorisme dengan kelahiran ISIS dan gerakan  Global Jihad serta transformasi gerakan teror dengan model Lone Wolf  setelah kehancuran ISIS di Irak-Suriah.

“Dengan situasi baru dinamika terorisme saat ini, strategi penanganan kejahatan terorisme harus dinamis mengikuti pengembangan terorisme sendiri”, ungkap Rektor.

Permasalahan keamanan dan sektor pertahanan, kata Rektor, memerlukan partisipasi semua pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi. Maka itu, Ubhara Jaya melalui Puskamnas terus bertekad dalam mengawal bidang keamanan. Bantuknya antara lain dengan menggenjot penelitian dan jurnal ilmiah dalam bidang keamanan, termasuk di antaranya menyelenggarakan  Sekolah Keamanan Nasional untuk umum.

Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A. Ph.D pun mengapresiasi komitmen Puskamnas dan Ubahra Jaya. Senada dengan Rektor, dinamika terorisme kontemporer pasca hancurnya kekuatan ISIS di Irak-Suriah, kata Tito, lahir modus dan motif baru. “ Dengan perubahan situasi tersebut diperlukan strategi yang adaptif dalam menaggulangi kejahatan terorisme.”

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi terorisme, yakni keras (hard approach) dan lembut (soft approach). ”Untuk cara keras, Polri dibantu oleh TNI dan intelijen. Pendekatan hard approach, “kata Tito. Cara ini umumnya dilakukan dengan mendorong aparat penegak hukum dan TNI untuk melaksanakan penegakan hukum secara transparan dan profesional.

“Sedangkan soft approach (lembut) dilaksanakan oleh BNPT salah satunya menangani jaringan atau sistem internet yang digunakan kelompok teroris. “ Untuk program deradikalisasi, lanjut  Tito, akan dilakukan kepada pelaku aksi teror,keluarga dan simpatisan. Sementara untuk program kontra radikalisasi, akan dilakukan kepada masyarakat umum untuk meningkatkan daya tangkal terhadap paham radikal terorisme.

Tito melanjutkan, langkah yang baik untuk membasmi terorisme di Indonesia yakni dengan penegakan hukum yang kuat. “Penegakan hukum (yang) harus dilakukan ada empat syarat, kemampuan deteksi aparat yang kuat, kemampuan pengananan penyelidikan secara ilmiah, aparat memiliki kemampuan menyerang di segala medan, serta adanya undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme yang memadai dalam penegakan hukum  .

Usai Tito, acara diramaikan dengan diskusi yang melibatkan berbagai narasumber ahli yang terbagi jadi dua sesi. Sesi pertama dengan topik Lesson learned Thus Faron Contemporary Counter Terrorism,” diisi oleh pemaparan Profesor Studi Keamanan dari The S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technology University, Singapura, Deputi III Bidang Kerjasama Internasional Badan Nasional Penaggulangan Terorisme  (BNPT), Irjen Pol. Drs. H. Hamidin, dan Resident Legal Advisor, U.S Departement of Justice, Jared C. Kimball.

Sementara sesi kedua dengan topik “Envisioning democratic counter-terrorism practices to come” menghadirkan Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya,  Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D., Ahli terorisme dari College of Criminal Justice Education, University of Mindanao, Davao, Philipines Nestor Nabe, Ph.D, dan Ms. Keara Shaw dari Kedutaan Australia. Tepuk tangan meriah peserta seminar menandai berakhirnya seminar yang dihadiri 750 orang dari berbagai lapisan masyarakat, baik mahasiswa, akademisi, aktivis dan pemerhati terorisme. Setelah seminar ini, Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D berjanji untuk terus mengibarkan panji-panji anti terorisme melalui kegiatan-kegiatan yang positif melalui bendera Puskamnas  Ubhara Jaya.

Tim Media Ubhara Jaya

]]>
Universitas Bhayangkara Jaya Kerjasama Dengan Houston University menggelar Seminar Internasional mengenai Dampak Media Digital https://ubharajaya.ac.id/universitas-bhayangkara-jaya-kerjasama-dengan-houston-university-menggelar-seminar-internasional-mengenai-dampak-media-digital/ Mon, 02 Oct 2017 06:45:57 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1642 Bekasi – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya menggelar seminar internasional bertajuk ‘Media Digital and its Impact on Individuals, Organizations and Society, and Beyond’, Selasa, 12 September 2017, di Auditorium Ubhara Jaya, Kampus II Bekasi.

Seminar yang diadakan sebagai bagian dari rangkaian kerjasama erat antara Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dengan School of Communication at the University of Houston, Houston-Texas mempertemukan lima ratus peserta terdiri dari praktisi, akademisi, dan mahasiswa. Kegiatan ini merupakan realisasi dari pelaksanaan penandatanganan Nota Kesepamahaman dengan University of Houston yang akan bekerjasama dalam bidang peningkatan Tri Dharma perguruan Tinggi pada hari Senin, 11 September 2017.

Seminar Internasional menghadirkan sejumlah pembicara dengan latar belakang peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang media, diantaranya, Temple Northup, Ph.D selaku Director and Assosiate Professor, the Valenti School of Communication at the University of Houston, Houston-Texas; Pastor R. Arguelles Jr dari University of Perpetual System Help Dalta, Burhan Solikhin selaku Editor in Chief tempo.co; Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo, MA., Phd., APU selaku Kepala Pusat Kajian Keamanan/ Puskamnas Ubhara Jaya; dan moderator oleh Irine Hiraswari Gayatri S.Sos, M.A dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Seminar ini dibuka oleh Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Irjen Pol (Purn) Drs. Bambang Karsono, SH., MM

Dalam sambutannya, Rektor Ubhara Jaya berharap seminar internasional ini dapat membuka ruang diskusi baru dan kaya dalam bidang komunikasi yang berhubungan langsung dengan tantangan dan resiko penggunaan media digital bagi semua stakeholder seperti individu, organisasi, pemerintah dan industri.

Rektor Ubhara Jaya menyampaikan bahwa saat ini penggunan digital media membawa banyak pada model baru pada interaksi dan ekspresi masyarakat. Ini tentunya membawa implikasi pada bagaimana orang dan organisasi berinteraksi antara satu dengan yang lain, juga membentuk ulang kegiatan pada sosial dan budaya, sebagaimana ekonomi, pendidikan, politik, pemerintahan dan bahkan keamanan nasional. Terkait hal tersebut,  maka dari itu sangat penting bagi kita untuk berdiskusi mengenai digital media dan dampaknya. “Semoga dapat belajar mengenai cara yang terbaik untuk mengeksploitasi keuntungan dan memitigasi efek negative dari media.”

Salah satu bahasan digital media menyorot tentang Masa Depan Digital Media yang disampaikan oleh Temple Northup, Ph.D selaku Director and Assosiate Professor, the Valenti School of Communication at the University of Houston. “Dari Fenomena Digital Media secara otomatis menunjukkan bahwa kita adalah makluk sosial. Kita suka berinteraksi dan terhubung dengan orang lain. “

Berangkat dari hal tersebut, ada tiga tren di dunia digital yang perlu diperhatikan  di masa depan. “Tren pertama adalah apa yang disebut immersivity, yang kedua machine learning, dan yang ketika adalah conversational user interfaces,” kata Northup.

Ia menjelaskan, immersivity yang dimaksud adalah tentang immersive teknologi berupa Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), Mixed Reality (MR), video atau foto 360 derajat, dan lain-lain. Dahulu kala ketika kita menonton video yang ada hanya berupa flat saja, tetapi ketika teknologi VR ditemukan, menonton video jadi lebih menarik. “Tidak hanya itu, media massa di Amerika Serikat juga sudah ada yang memakai teknologi VR dan 360 video dalam pemberitaanya, contohnya New York Times,” katanya.

Northup menambahkan, tren kedua adalah machine learning yang merupakan bagian dari Artificial Intelligence (AI) di mana mesin mempelajari tingkah laku manusia, seperti telepon pintar yang mengetahui kebiasaan kita, misalnya, setiap pagi manusia pergi ke tempat makan, mesin mengetahuinya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, tren ketiga adalah  conversational user interfaces. Ketika seseorang bisa  berbicara dengan telepon pintarnya, misal pada pengguna iPhone ada Siri. Manusia bisa melakukan percakapan seperti meminta bantuan.

Pada sesi berikutnya  Editor In Chief Tempo.co, Burhan Solihin memberi paparanya terkait masa depan jurnalisme di Era Perubahan Digital Media. Gelombang digitalisasi media memang sudah menerpa ke segala arah.Jurnalisme adalah salah satu bidang yang berada di tengah gelombang tersebut.

Burhan mengacu pada sebuah data dimana dari 262 juta jumlah penduduk Indonesia, 50 persennya atau 132 Juta orang  merupakan pengguna internet. 100 juta diantaranya pengguna media sosial yang aktif mengonsumsi Youtube, Facebook dll. “Ini yang akan mengubah media seperti Tempo.  Kalau dahulu malam minggu pasti di dalam suatu kelarga pasti berebut TV. Tetapi sekarang  masing-masing memilih di depan gadget dan laptop. Konsumsi media sosial terbanyak di Indonesia adalah Youtube dan Facebook lalu pertanyaannya adalah dimanakah posisi Kompas, Tempo dll,”ujar Burhan.

Burhan menilai, globalisasi media yang sedang dialami Indonesia  menjadi tantangan semua media konvensional. “Tempo harus masuk ke dalam youtube dan Facebook kemudian yang terbesar adalah Wathshap. Dahulu, salah satu pembentukan opini di media massa dibentuk oleh media konfensional seperti TV dll. Kalau sekarang peran utamanya pada sosial media. Jadi apa yang sedang nge trend di sosmed itulah yang akan di tulis online kemudian baru dikabarkan secara offline,”Tambah Burhan.  Di sisi lain, para pengelola media dihadapkan pada tantangan berupa kecepatan perubahan teknologi. Kemampuan adaptasi terhadap perubahan ini akan sangat bermakna untuk menjaga pembaca agar tetap betah menjadi pelanggan serta mampu menggaet pelanggan baru. Eksplorasi terhadap media multiplatform salah satu kuncinya. Pelanggan media digital menginginkan pengalaman baru dalam menyusuri informasi yang disajikan, dan ini sangat berbeda dengan karakter media cetak yang ‘diam’.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Keamanan Nasional Ubhara Jaya,  Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, MA, PhD, APU memaparkan fakta adanya perubahan status dan peran media massa. Tidak seperti sebelumnya, dimana wartawalanyang menjadi komunikator media tidak lagi berlaku saat ini karena setiap orang bisa menjadi wartawan dengan menyampaian pesan apa saja melalui Handphone. Sekarang ini, kebanyakan orang mendapatkan informasi dari internet. Meski unggul dalam kecepatan dan murah, Informasi diinternet mengandung banyak tantangan di antaranya Reality bubble dan maraknya kabar bohong dan akun palsu

Maka itu, Prof Kikie, demikian beliau biasa disapa, menghimbau agar pengguna internet dan media sosial tidak menjadi orang yang hanya menerima berita dan menyebarkannya begitu saja.

Terkait fenomena reality buble, Menurutnya,  masyarakat yang membuka internet atau media sosial yang hanya sesuai dengan minat dan kesukaannya akan menimbulkan sifat ketidaksensitian dan intoleran. “Kita kita menemukan yang tidak kita suka tidak akan kita lanjuti. Maka akan terjadi sikap intoleran karena pandangan orang lain kita tolak,”Imbuhnya.

Seminar berjalan dengan lancar dan sukses. Peserta nampak antusias bertanya dan berdiskusi dengan pembicara. Penyelenggaraan seminar internasional merupakan satu komitmen Ubhara Jaya dalam mewujudkan world class university. Hal tersebut juga terlihat dari sejumlah kerja sama internasional yang sudah dijalin, seperti dengan Korea Selatan, Thailand, Taiwan, dan yang terbaru adalah dari Filipina yaitu University of Mindanao dan University of Perpetual System Help DALTA serta Amerika Serikat yakni University of Houston.

(Tim Media Ubhara Jaya)

]]>
Ubhara Jaya Gelar Seminar Internasional https://ubharajaya.ac.id/ubhara-jaya-gelar-seminar-internasional/ Thu, 15 Dec 2016 10:11:40 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1266 Bekasi – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) menggelar seminar internasional, Senin, 28 Nopember 2016. Seminar yang mengangkat temaInternational Seminar on Academic Collaboration and the challenges of Asean Integration” ini diselenggarakan di Auditorium Ubhara Jaya. Acara dibuka dengan pagelaran seni tari daerah bekasi dengan nama tari Nandak Ganjen dari mahasiswi Ubhara Jaya. Sebagai pembicara yaitu Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya, Prof. Hermawan Sulistyo, Vice President Universitas Mindanao untuk Perencanaan dan Kerjasama Akademik, Dr.Ronald V.Amorodo, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset, Teknologi dan Peguruan Tinggi, Prof. Dr. Intan Ahmad, Ketua koordinator Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS) Wilayah III, Dr. Illah Sailah, MS, Sekretaris Pertama/Konsul Penerangan dan Sosial Budaya KJRI  Davao City Philipina, Endah R Yuliarty Farry, dan Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sri Atmaja P, Rosyidi, ST, MSc.Eng., PhD., PE.  

 Rektor Univesitas Bhayangkara Jakarta Raya Irjen Pol (Purn) Drs. Bambang Karsono. SH., MM, selaku Rektor Ubhara Jaya menyampaikan bahwa seminar internasional ini merupakan langkah awal dari kerjasama antara Ubhara Jaya denga Universitas Mindanao Philipina dimana langkah selanjutnya  dalam kerjasama ini akan menghasilkan berbagai kerja sama akademik meliputi pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, riset gabungan dan cara mengelola jurnal internasional. “Hal ini kita lakukan untuk menjadikan Kampus Universitas Bhayangkara Jakarta Raya menuju World Class University,” imbuh beliau.

Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya, Prof Hermawan Sulistyo yang juga sebagai salah seorang pembicara menjelaskan, selain kerjasama dalam bidang pendidikan dan akademik, pihaknya juga akan melakukan kerjasama dalam isu-isu keamanan nasional. Kasus narkotika dan kasus terorisme adalah kasus yang paling menarik perhatian banyak orang, sebab kelompok Abu Sayaaf pernah 4 kali melakukan penyanderaan kepada pelaut-pelaut dan pekerja dari Indonesia. “Selama ini kan kita belum punya database yang memadai soal tersebut. Nah disini kita akan ambil peran. Kita akan lakukan kajian dan melakukan pemetaan,” katanya.

Seminar internasional mendapatkan antusiasme yang tinggi baik dari peserta, mahasiswa, dosen maupun pembicara. Hal itu terlihat dari banyaknya tanggapan positif maupun pertanyaan yang muncul dari peserta selama diskusi berlangsung.  Seminar ditutup dengan foto bersama pemateri dan moderator. Semoga dengan adanya seminar internasional ini, kerjasama kedua belah pihak dapat berjalan baik dan memberi manfaat seluruh pihak.

]]>